shopify visitor statistics
Monday , March 25 2019
Breaking News
Home / Artikel Sertifikasi Guru / Ujian Nasional Berbasis Komputer

Ujian Nasional Berbasis Komputer

Kali ini membuat tulisan tentang ujian nasional, berbeda dengan yang kemarin-kemarin membuat tulisan tentang sertifikasi guru. Tulisan tentang ujian nasional dibuat karena sesuai jadwal pelaksanaannya akan di laksanakan pada waktu dekat. Menurut wacana di media ada beberapa issu yang mengatakan bahwa soal ujian nasional berbentuk essai, namun beberapa instansi terkait telah membantahnya. Hingga sekarang di perjelas oleh badan standar pendidikan nasional (BSNP) bahwa soal ujian nasional bernetuk pilihan ganda. Adapun alasan penggunaan soal berbentuk pilihan ganda adalah karena terkait dengan pengumuman yang akan segera dilakukan. Sehingga dengan menggunakan soal berbentuk essay maka pengumuman dengan segera mustahil dilakukan.

Selain wacana tentang bentuk soal, wacana yang lain adalah penggunaan komputer secara online dalam ujian nasional atau biasa disebut Computer Base Test (CBT). Mengutip dari halaman badan standar nasional tentang pelaksanaan ujian nasional dengan CBT berikut :

BSNP Jakarta— Sesuai dengan kebijakan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Bawesdan sebagaimana disampaikan dalam konferensi pers (23/1/2015) di Jakarta,  mulai tahun 2015 Ujian Nasional (UN) dilaksanakan dalam dua bentuk, yaitu Paper Based Test (PBT) dan Computer Based Test (CBT).  Khusus untuk UN CBT pada tahun  2015 akan diterapkan secara terbatas pada sekolah   yang dinilai layak melaksanakan UN CBT, untuk jenjang SMP, SMA, dan SMK sederajat.

Sehubungan dengan persiapan pelaksanaan UN CBT, BSNP telah melakukan rapat koordinasi dengan mengundang dua mitra kerja utama di lingkungan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) dan Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Pendidikan (Pustekkom) pada hari Selasa (3/2/2015) di Jakarta.

Ari Santoso Kepala Pustekkom mengatakan bahwa untuk mensukseskan pelaksanaan UN CBT diperlukan persiapan yang matang dan penuh kehati-hatian sehingga tidak menimbulkan dampak negatif di kemudian hari.

“UN CBT perlu dipersiapkan dengan matang sehingga pada tahap rintisan tahun 2015 ini ada success story dan jika ada kelemahan atau keterbatasan dalam pelaksanaannya tidak menimbulkan pobia (rasa takut) terhadap teknologi informasi dan komunikasi (TIK) di kalangan siswa, guru, dan orang tua murid”,  ucapnya.

Bentuk persiapan ini, tambah Ari, meliputi asesmen aplikasi, finalisasi buku panduan dan petunjuk teknis, verifikasi sekolah, pelatihan proctor dan teknisi di lapangan, risk management, dan help desk yang terkait dengan pelaksanaan UN CBT.

“Jika semua tahapan kegiatan ini dilaksanakan dengan baik, saya optimis UN CBT tahun 2015 dapat dilaksanakan dengan baik”, ucap Ari  yang saat ini juga menjadi Pajabat Pelaksana Tugas (PLT) Pusat Informasi dan Humas Kemdikbud.

Sementara itu, Nizam Kepala Puspendik mengatakan bahwa UN CBT tahun 2015 bersifat rintisan dan dilaksanakan secara terbatas.

“UN CBT tahun 2015 bersifat rintisan dan dilaksanakan secara terbatas di sekolah yang dinilai layak melaksanakannya sesuai dengan kriteria yang ditetapkan BSNP sebagai penyelenggara UN”, ucap Nizam Kepala Puspendik seraya menambahkan diantara kriteria tersebut adalah rasio komputer (PC) dengan peserta UN adalah satu banding tiga, diutamakan sekolah yang terakreditasi A, memiliki UPS untuk PC server dan klien, serta diutamakan sekolah yang memiliki genset.

Saat ini, tambah Nizam, proses pendataan sekolah yang akan melaksanakan UN CBT sedang berlangsung dan akan ada proses verifikasi dari pelaksana UN tingkat pusat dan daerah. Berdasarkan hasil verifikasi, pelaksana UN tingkat pusat akan menetapkan jumlah sekolah yang layak melaksanakan UN CBT.

Sementara Giri Sarana Kepala Bidang Non Akademik Puspendik yang menangani pendataan sekolah mengatakan bahwa sampai tanggal 3 Februari 2015, ada 236 sekolah yang didaftarkan Dinas Pendidikan Provinsi sebagai pelaksana UN CBT. Jumlah tersebut terdiri atas SMP sebanyak 33 sekolah, SMA sebanyak 73, dan SMK sebanyak 130.

Jumlah tersebut tambah Giri, masih bisa bertambah atau berkurang sesuai dengan hasil verifikasi.

Secara terpisah, Dadang Sudiyarto Sekretaris Balitbang Kemdikbud mengatakan bahwa penetapan sekolah pelaksana UN CBT dilakukan paling lambat tanggal 27 Februari 2015. Kepastian jumlah sekolah ini sangat penting sebab terkait dengan kontrak kerja percetakan yang akan menggandakan soal UN PBT.  (BS)

Berdasarkan hal tersebut di atas, bagi saya memang selayaknya dapat dilaksanakan ujian nasional dengan menggunakan komputer. Penggunaan komputer dalam ujian nasional dapat menurunkan tingkat kecurangan, menghemat biaya penggandaan, menghemat waktu terutama pemeriksaan, dan beberapa kelebihan lainnya. Tentunya kendala yang terjadi di lapangan adalah jumlah komputer yang dibutuhkan sangat banyak, dan tidak semua sekolah memiliki jaringan komputer.

Harapan kedepan dengan semoga dengan tingkat ketersediaan komputer dan jaringan di semua sekolah wacana menggunakan komputer dalam pelaksanaan ujian nasional dapat dilaksankan, seperti halnya dalam pelaksanaan ujian sertifikasi guru. 

Scroll To Top