shopify visitor statistics
Breaking News
Home / Artikel Sertifikasi Guru / Landasan berpikir dalam penelitian kualitatif

Landasan berpikir dalam penelitian kualitatif

Landasan berpikir dalam penelitian kualitatif adalah pemikiran Max Weber (1997) yang menyatakan bahwa pokok penelitian sosiologi bukan gejala-gejala sosial, tetapi pada makna-makna yang terdapat di balik tindakan-tindakan perorangan yang mendorong terwujudnya gejala-gejala sosial tersebut. Oleh karena itu metoda yang utama dalam sosiologi dari Max Weber adalah verstehen atau pemahaman (jadi bukan erklaren atau penjelasan). Agar dapat memahami makna yang ada dalam suatu gejala sosial, maka seorang peneliti harus dapat berperan sebagai pelaku yang ditelitinya, dan harus dapat memahami para pelaku yang ditelitinya agar dapat mencapai tingkat pemahaman yang sempurna mengenai makna-makna yang terwujud dalam gejala-gejala sosial yang diamatinya (Suparlan, 1997:95).

Pada buku yang lain, Suparlan menjelaskan bahwa penelitian kualitatif memusatkan perhatiannya pada prinsip umum yang mendasari perwujudan satuan-satuan gejala yang ada dalam kehidupan manusia, atau pola-pola. Gejala-gejala sosial dan budaya dianalisis dengan menggunakan kebudayaan dari masyarakat yang bersangkutan untuk memperoleh gambaran mengenai pola-pola yang berlaku, dan pola-pola yang ditemukan tadi dianalisis lagi dengan menggunakan teori yang objektif. Penelitian kualitatif sasaran kajiannya adalah pola-pola yang berlaku yang merupakan prinsip-prinsip yang secara umum dan mendasar berlaku dan menyolok berdasarkan atas kehidupan manusia, maka juga analisis terhadap gejala-gejala tersebut tidak dapat tidak harus menggunakan kebudayaan yang bersangkutan sebagai kerangka acuannya. Karena kalau menggunakan kebudayaan lain atau kerangka acuan lainnya maka maknanya adalah menurut kebudayaan lain; tidak objektif, sehingga pendekatan kualitatif tidak relevan (Suparlan, 1994:6-7).

Dari uraian Suparlan tersebut sudah jelas perbedaan yang fundamental antara penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif. Agar terdapat gambaran yang lebih rinci perbedaan penelitian kuantitatif dengan penelitian kualitatif akan dikemukakan pandangan Cresswell (1994), Denzin & Lincoln (1994), Guba & Lincoln (1994), dan Moustyan (1995) (dalam Neuman, 1997:14) sebagai berikut.

 Quantitative Style (Model Kuantitatif)

  1. Measure objective facts (mengukur fakta yang objektif)
  2. Focus on variables (terfokus pada variabel-variabel)
  3. Reliability is key (reliabilitas merupakan kunci)
  4. Value free (bersifat bebas nilai)
  5. Independent of context (tidak tergantung pada konteks)
  6. Many cases subjects (terdiri atas kasus atau subjek yang banyak)
  7. Statistical analysis (menggunakan analisis statistik)
  8. Researcher is detached (peneliti tidak terlibat)

 Qualitative Style (Model Kualitatif)

  1. Construct social reality, cultural meaning (mengonstruksi realitas sosial, makna budaya)
  2. Focus on interactive processes, events (berfokus pada proses interpretasi dan peristiwa-peristiwa)
  3. Authenticity is key (keaslian merupakan kunci)
  4. Values are present and explicit (nilai hadir dan nyata / tidak bebas nilai)
  5. Situationally constrained (terikat pada situasi / terikat pada konteks)
  6. Few cases subjects (terdiri atas beberapa kasus atau subjek)
  7. Thematic analysis (bersifat analisis tematik)
  8. Researcher is involved (peneliti terlibat)

 

 

Scroll To Top